Tuesday, September 12, 2017

MANFAAT PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA DAN KEDUA





Pengertian Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa pertama (B1) sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognitif yakni pertama, jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasa yang bersangkutan dengan baik. Kedua, pembicara harus memperoleh ‘kategori-kategori kognitif’ yang mendasari berbagai makna ekspresif bahasa-bahasa alamiah, seperti kata, ruang, modalitas, kausalitas, dan sebagainya. Persyaratan-persyaratan kognitif terhadap penguasaan bahasa lebih banyak dituntut pada pemerolehan bahasa kedua (PB2) daripada dalam pemerolehan bahasa pertama (PB1).

Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak pada awal kehidupannya tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa tersebut, bahasa anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk tata struktur bahasanya. Anak akan mengucapkan kata berikutnya untuk keperluan komunikasinya dengan orang tua atau kerabat dekatnya.
Gracia (dalam, Krisanjaya, 1998) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis). Kalau kita beranggapan bahwa fungsi tangisan sebagai awal dari kompetensi komunikasi, maka ucapan kata tunggal yang biasanya sangat individual dan kadang aneh seperti: “mamam” atau “maem” untuk makan, hal ini menandai tahap pertama perkembangan bahasa formal. Untuk perkembangan berikutnya kemampuan anak akan bergerak ke tahap yang melebihi tahap awal tadi, yaitu anak akan menghadapi tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.
Ada dua pandangan mengenai pemerolehan bahasa (Mc Graw dalam Krisanjaya, 1998). Pertama pemerolehan bahasa mempunyai permulaan mendadak atau tiba-tiba. Kebebasan berbahasa dimulai sekitar satu tahun ketika anak-anak menggunakan kata-kata lepas atau terpisah dari simbol pada kebahasaan untuk mencapai aneka tujuan sosial mereka. Pandangan kedua menyatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial dan kemampuan kognitif pralinguistik.
Lenneberg seorang ahli teori belajar bahasa yang sangat terkenal (1969) mengatakan bahwa perkembangan bahasa bergantung pada pematangan otak secara biologis. Pematangan otak memungkinkan ide berkembang dan selanjutnya memungkinkan pemerolehan bahasa anak berkembang. Terdapat banyak bukti, manusia memiliki warisan biologis yang sudah ada sejak lahir berupa kesanggupannya untuk berkomunikasi dengan bahasa khusus untuk manusia. Bukti yang memperkuat pendapatnya itu, antara lain:
a.       Kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan bagian-bagian anatomi dan fisiologi manusia bagian otak tertentu yang mendasari bahasa. Tingkat perkembangan bahasa anak sama bagi semua anak normal.
b.      Kelainan hanya sedikit berpengaruh terhadap keterlambatan perkembangan bahasa anak.
c.       Bahasa tidak dapat diajarkan kepada mahluk lain.
d.      Bahasa bersifat universal, setiap bahasa dilandasi unsur fonologi, semantik dan sintaksis yang universal.
Steinberg (1990) seorang ahli psikolinguistik , menjelaskan perihal hubungan bahasa dan pikiran. Menurutnya sistem pikiran yang terdapat pada anak-anak dibangun sedikit-demi sedikit apabila ada rangsangan lingkungan sekitarnya sebagai masukan atau input. Input ini berupa apa yang didengar, dilihat dan apa yang disentuh anak yang menggambarkan benda, peristiwa dan keadaan sekitar anak yang mereka alami. Lama-kelamaan pikirannya akan terbentuk dengan sempurna. Apabila pikiran telah berbentuk dengan sempurna dan apabila masukan bahasa dialami secara serentak dengan benda, peristiwa, dan keadaan maka barulah bahasa mulai dipelajari.
Walaupun masih terdapat perbedaan tentang teori pemerolehan bahasa anak, tetapi kita semua meyakini bahwa bahasa merupakan media yang dapat dipergunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain yang hidup di masyarakat. Pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Agar anak dapat disebut menguasai bahasa pertama ada beberapa unsur penting yang berkaitan dengan perkembangan kognitif anak, yaitu pemahaman tentang waktu, ruang, modalitas, sebab akibat yang merupakan bagian penting dalam perkembangan kognitif penguasaan bahasa ibu seorang anak.
·         Strategi Pemerolehan Bahasa Pertama
Anak-anak proses pemerolehan bahasa pada umumnya menggunakan 4 strategi. Strategi pertama adalah meniru/imitasi. Strategi pertama dalam pemerolehan bahasa dengan berpedoman pada: tirulah apa yang dikatakan orang lain. Tiruan akan digunakan anak terus, meskipun ia sudah dapat sempurna melafalkan bunyi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa strategi tiruan atau strategi imitasi ini akan menimbulkan masalah besar. Mungkin ada orang berkata bahwa imitasi adalah mengatakan sesuatu yang sama seperti yang dikatakan orang lain. Akan tetapi ada banyak pertanyaan yang harus dijawab berkenaan dengan hal ini.
Ada berbagai ragam peniruan atau imitasi, yaitu imitasi spontan atau spontaneous imitation, imitasi pemerolehan atau elicited imitation, imitasi segera atau immediate imitation, imitasi terlambat delayed imitation dan imitasi dengan perluasan atau imitation with expansion, reduced imitation.
Strategi kedua dalam pemerolehan bahasa adalah strategi produktivitas. Produktivitas berarti keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa yang berpegang pada pedoman buatlah sebanyak mungkin dengan bekal yang telah Anda miliki atau Anda peroleh. Produktivitas adalah ciri utama bahasa. Dengan satu kata seorang anak dapat “bercerita atau mengatakan” sebanyak mungkin hal. Kata papa misalnya dapat mengandung berbagai makna bergantung pada situasi dan intonasi.
Strategi ketiga adalah strategi umpan balik antara strategi produksi ujaran (ucapan) dengan responsi.
Strategi keempat adalah apa yang disebut prinsip operasi. Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman, “Gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menggunakan bahasa” (hindarkan kekecualian, prinsip khusus: seperti kata; berajar menjadi belajar).
Pengertian Pemerolehan Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa kedua dimaknai saat seseorang memperoleh sebuah bahasa lain setelah terlebih dahulu ia menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya (bahasa ibu. Ada juga yang menyamakan istilah bahasa kedua sebagai bahasa asing. Khusus bagi kondisi di Indonesia, istilah bahasa pertama atau bahasa ibu, bahasa asli atau bahasa utama, berwujud dalam bahasa daerah tertentu sedangkan bahasa kedua berwujud dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing. Tujuan pengajaran bahasa asing kadang-kadang berbeda dengan pengajaran bahasa kedua. Bahasa kedua biasanya merupakan bahasa resmi di negara tertentu, oleh karenanya bahasa kedua sangat diperlukan untuk kepentingan politik, ekonomi, dan pendidikan.
Terdapat perbedaan dalam proses belajar bahasa pertama dan bahasa kedua. Proses belajar bahasa pertama memiliki ciri-ciri:
  • Belajar tidak disengaja
  • Berlangsung sejak lahir
  • Lingkungan keluarga sangat menentukan
  • Motivasi ada karena kebutuhan
  • Banyak waktu untuk mencoba bahasa
  • Banyak kesempatan untuk berkomunikasi.
Pada proses belajar bahasa kedua terdapat ciri-ciri:
·         Belajar bahasa disengaja, misalnya karena menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah
·         Berlangsung setelah pelajar berada di sekolah
·         Lingkungan sekolah sangat menentukan
·         Pelajar tidak mempunyai banyak waktu untuk mempraktikan bahasa yang dipelajari.
·         Bahasa pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua
·         Ada orang yang mengorganisasikannya, yakni guru dan sekolah.
Strategi Belajar Bahasa Kedua
Dalam kaitannya dengan proses belajar bahasa kedua perlu diperhatikan beberapa strategi yang dapat diterapkan. Stern (1983) menjelaskan ada sepuluh strategi dalam proses belajar bahasa, yaitu:
·         Strategi perencanaan dan belajar positif.
·         Strategi aktif, pendekatan aktif dalam tugas belajar, libatkan siswa anda secara aktif dalam belajar bahasa bahkan melalui pelajaran yang lain.
·         Strategi empatik, ciptakan empatik pada waktu belajar bahasa.
·         Strategi formal; perlu ditanamkan kepada siswa bahwa proses belajar ini formal/terstruktruktur sebab pendidikan yang sedang ditanamkan adalah pendidikan formal bukan alamiah.
·         Strategi eksperimental; tidak ada salahnya jika anda mencoba-coba sesuatu untuk peningkatan belajar siswa anda.
·         Strategi semantik, yakni menambah kosakata siswa dengan berbagai cara, misalnya permainan (contoh teka-teki); permainan dapat meningkatkan keberhasilan belajar bahasa.
·         Strategi praktis; pancinglah keinginan siswa untuk mempraktikan apa yang telah didapatkan dalam belajar bahasa, anda sendiri harus dapat menciptakan situasi yang kondusif di kelas.
·         Strategi komunikasi; tidak hanya di kelas, motivasi siswa untuk menggunakan bahasa dalam kehidupan nyata meskipun tanpa pantau, berikan pertanyaan-pertanyaan atau PR yang memancing mereka bertanya kepada orang lain sehingga strategi ini terpakai.
·         Strategi monitor; siswa dapat saja memonitor sendiri dan mengkritik penggunaan bahasa yang dipakainya, ini demi kemajan mereka.
·         Strategi internalisasi; perlu pengembangan/pembelajaran bahasa kedua yang telah dipelajari secara terus-menerus/berkesinambungan.
Selanjutnya Rubin (dalam Stern, 1983) menyebutkan ciri-ciri pelajar yang baik ketika melakukan proses belajar bahasa:
·         Ia mau dan menjadi seorang penerka yang baik (dapat menerka bentuk yang gramatikal dan yang tidak gramatikal)
·         Suka berkomunikasi
·         Kadang-kadang tidak malu terhadap kesalahan dan siap memperbaikinya; belajar setelah berbuat salah
·         Suka mengikuti perkembangan bahasa
·         Praktis, tidak terlalu teoritis
·         Mengikuti ujarannya dan membandingkan dengan ujaran yang baku, ini baik untuk pelafalan
·         Mengikuti perubahan makna sesuai kontes sosial.

Kegunaan Bahasa Pertama dan Kedua dalam Berbagai Konteks
Keterampilan Berbahasa Lisan
Dalam pembelajaran bahasa di SD, difokuskan pada kemampuan siswa memahami dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan berbahasa terdiri dari keterampilan menyimak dan keterampilan berbicara.
v  Keterampilan Menyimak
Dalam pengajaran berbahasa lisan dijumpai istilah mendengar, mendengarkan, dan menyimak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mendengar diartikan sebagai menangkap bunyi (suara) dengan telinga. Mendengarkan berarti mendengar sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sedangkan menyimak berarti mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.
Menyimak merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan mendengar, mengidentifikasikan, menginterpretasi bunyi bahasa kemudian menilai hasil interpretasi makna dan menanggapi pesan yang tersirat di dalam wahana bahasa tersebut. Dengan kata lain, menyimak berarti kemampuan memahami pesan yang disampaikan melalui bahasa lisan. Hal ini bertujuan untuk melatih siswa memahami bahasa lisan. Oleh sebab itu, lebih baik pemilihan bahan pembelajaran menyimak disesuaikan dengan karakteristik siswa SD. Pembelajaran menyimak di kelas rendah tidak disertai dengan  kegiatan menulis sebab kemapuan menulis siswa kelas rendah masih sangat terbatas. Bahan simakan untuk kelas di SD berupa perintah, pertanyaan atau petunjuk lisan yang menghendaki jawaban singkat atau perbuatan sebagai jawabannya.
Secara umum, bahan pembelajaran menyimak dapat menggunakan bahan pembelajaran membaca, menulis, kosakata, karya sastra, bahan yang disusun oleh guru sendiri atau diambil dari media cetak. Setelah menyampaikan bahan pembelajaran, guru secara langsung dapat mengadakan tanya jawab tentang isi materi yang sudah disampaikannya atau menugasi siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan lebih dulu yang disusun secara sistematis.
v  Keterampilan Berbicara
Keterampilan Berbicara dapat diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan, atau perasaan secara lisan. Sifat kegiatannya sangat kompleks, sebab banyak faktor yang terkait di dalamnya. Faktor pemahaman dalam berbicara memegang peranan penting, karena tanpa pemahaman kegiatan berbicara akan tersendat-sendat.
Dalam pembelajaran siswa di SD, tujuan utamanya adalah melatih siswa dapat berbicara dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dapat menggunakan bahan pembelajaran membaca atau menulis, kosakata, dan sastra sebagai bahan pembelajaran berbicara, misalnya menceritakan pengalaman yang mengesankan, menceritakan kembali cerita yang pernah dibaca atau didengar, mengungkapkan pengalaman pribadi, bertanya jawab berdasarkan bacaan, bermain peran, atau berpidato. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan bahwa pembelajaran berbicara harus dikaitkan dengan pembelajaran keterampilan lainnya. Faktor-faktor yang diamati adalah lafal kata, intonasi kalimat, kosakata, tata bahasa, kefasihan bicara, dan pemahaman.
v  Menulis
Salah satu bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah menulis perkembangan anak dalam menulis terjadi secara perlahan-lahan dan perlu mendapatkan dan meningkatkan bimbingan. Melalui menulis anak akan terlatih dalam menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berkreasi.
Menulis merupakana kegiatan membuat huruf (angka dsb) dengan pena. Menulis dapayt di pandang sebagai rangkaian aktivitas yang bersifat fleksibel. Rangkaian aktivitas yang dimaksud meliputi: pramenulis, penulisan draft, revisi, penyuntingan, dan publikasi atau pembahasan (Rofi’uddin dan Zuhdi, 1998/1999: 76). Selain it Rofi’uddin dan Zuhdi, (1998/1999: 158) menyatakan bahwa menulis adalah suatu proses menuangkan pikiran, gagasan, pendapat tentang sesuatu tanggapan terhadap suatu pernyataan, keinginan, atau pengungkapan perasaan dengan menggunakan bahasa secara tertulis.

Manfaat Pemerolehan Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua
v  Merangsang anak yang masuk masa periode pertumbuhan.
Pada masa pertumbuhan, komunikasi amat diperlukan. Karena dengan adanya komunikasi dari orang tua kepada anak dapat menimbulkan rangsangan-rangsangan yang dapat membantu anak tersebut memperoleh bahasa pertamanya, dimana bahasa tersebut didapat dari orang tua anak.
v  Sebagai bahan dasar orang tua untuk membekali anak-anaknya dalam berbicara.
Setelah seorang anak mendapatkan bahasa pertamanya, tugas lanjutan orang tua ialah menambah pengusaan bahasa itu sendiri. Dengan begitu meskipun belum maksimal, modal awal seorang anak dalam berbahasa telah ia peroleh.
v  Mengajari anak untuk berkomunikasi secara baik dan benar.
Dengan adanya faktor lingkungan, banyak bahasa-bahasa atau istillah-istilah baru yang belum dimengerti anak. Tugas orang tua ialah membenarkan bahasa yang kurang tepat, karena bagaimanapun adanya perubahan dan perbedaan bahasa dapat mempengaruhi proses belajar anak.
v  Mempermudah anak menerima lingkungan.
Dengan adanya bahasa yang telah dipahami anak, memudahkan seorang anak menerima dan diterima di lingkungannya.
v  Sebagai jendela seorang anak untuk mengetahui dunia luar.
Adanya bahasa yang universal, dengan berbagai macam asal dan sejarah bahasa. Membuat seorang anak mau tidak mau harus bisa mengerti bahasa daerah atau bahkan negara lain. Seperti bahasa inggris yang pada akhirnya nanti akan masuk dalamm materi pembelajaran siswa SD.
v  Sebagai bekal anak di masa yang akan datang.
Setelah anak tersebut mendapat pengetahuan atau penguasaan bahasa, hal itu akan berdampak positif bagi si anak tersebut. Anak akan terbuka dan mudah menerima hal-hal yang baru dalam memahami atau mendalami bahasa.
v  Memudahkan seseorang bertukar pikiran atau gagasan dengan maksud dan tujuan yang tepat.
v  Mengurangi atau meminimalisir adanya mist communication atau salah paham pada individu satu dengan yang lainnya.

Selain beberapa manfaat di atas, bahasa juga memiliki fungsi sebagai berikut:
Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.
·         Bahasa merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.
·          Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami.
Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi, memiliki tujuan tertentu yaitu agar kita dipahami oleh orang lain. Jadi dalam hal ini respons pendengar atau lawan komunikan yang menjadi perhatian utama kita.
         Bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan alat untuk merumuskan maksud kita.
          Dengan komunikasi, kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, pikirkan, dan ketahui kepada orang lain.
         Dengan komunikasi, kita dapat mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita dan apa yang telah dicapai oleh orang-orang sejaman kita.
         Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi melalui lisan (bahsa primer) dan tulisan (bahasa sekunder). Berkomunikasi melalui lisan (dihasilkan oleh alat ucap manusia), yaitu dalam bentuk symbol bunyi, dimana setiap simbol bunyi memiliki cirri khas tersendiri. Suatu simbol bisa terdengar sama di telinga kita tapi memiliki makna yang sangat jauh berbeda. Misalnya kata ’sarang’ dalam bahasa Korea artinya cinta, sedangkan dalam bahasa Indonesia artinya kandang atau tempat.
         Tulisan adalah susunan dari simbol (huruf) yang dirangkai menjadi kata bermakna dan dituliskan. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi.
         Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyaii fungsi utama bahasa adalah bahwa komunikasi ialah penyampaian pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa tidak tetap dan selalu berubah seiring perubahan kegaiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat. Perubahan bahasa dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Terutama pada penggunaan Fungsi komunikasi pada bahasa asing Sebagai contoh masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk
“berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran. Jadi bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya dengan satu bahasa melainkan banyak bahasa.
Contohnya :
Misalnya berupa :
Alat-alat itu digunakan untuk berkomunikasi misalnya gerak badaniah, alat bunyi-bunyian, kentongan, lukisan, gambar, dsb).
Contohnya :
a. Bunyi tong-tong memberi tanda bahaya
b. Adanya asap menunjukkan bahaya kebakaran
c. Alarm untuk tanda segera berkumpul
d. Bedug untuk tanda segera melakukan sholat
e. Telepon genggam untuk memanggil orang pada jarak jauh
f. Simbol – tanda stop untuk pengguna jalan, simbol laki-laki dan perempuan bagi    pengguna toilet.
g. Gambar peta yang menunjukkan jalan
h. Suasana gemuruh kentongan dipukul tanda ketika ada bahaya
i. Adanya asap tampak dari kejauhan pertanda kebakaran
j. Bunyi alarm (suasana tanda bahaya gempa bumi/bencana alam) dsb.

Contoh dalam kehidupan sehari hari
Misalkan seorang satpam perumahan berjaga-jaga/ronda pada malam hari, pada saat sudah mendekati jam 12.00 malam satpam tersebut membunyikan kentongan yang bertanda bahwa waktu sudah tepat pukul 12.00 malam. Dan timbul timbal balik antara satpam sama orang-orang disekitar perumahan.setiap orang jadi lebih mengerti tanda waktu pergantian tersebut
            Jadi, bahasa yang dipakai satpam tersebut berupa kentongan yang memberikan pertanda sesuatu akan terjadi/ sesuatu yang sudah mestinya dilakukan.
Kesimpulan: Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

No comments:

Post a Comment